Kelenteng Sijuk, Vihara Tertua di Pulau Bangka Belitung yang jadi Tujuan Wisata Keagamaan

Kelenteng Sijuk Belitung adalah nama terkenal dari Kelenteng Hok Tek Ceng Sin yang lokasinya berada di Desa Sijuk, Kec.Sijuk, Belitung. Kelenteng tua ini berjarak sekitar 350 m dari Mesjid Sijuk, arah ke Barat Laut, melewati jalan kecil di samping kiri masjid. Pantas namanya, tuan rumahnya adalah Dewa Bumi.

Photo by patadaily.id

Masjid dan Kelenteng Sijuk Belitung ini bukan cuma dekat secara jasmani, tetapi juga dekat mengenai riwayatnya. Sebab keduanya berdiri hampir pada waktu beriringan, yang mana Kelenteng Sijuk berdiri pada 1815. Cuma sekitar 2 tahun lebih permulaan dari berdirinya Mesjid Al Ikhlas Sijuk.

Halaman Kelenteng Sijuk ini lumayan lapang, dengan pemandangan sisi kanan kirinya berupa kebun yang tumbuh pepohonan cukup rapat. Sehingga bangunannya yang terkesan agak simpel itu sekilas terlihat begitu kecil. Suasana sepi yang akan menjadi kesan pertama ketika anda datang. Tak tampak ada orang bersembahyang, melainkan anda hanya bertemu dengan pengurus kelenteng.

Sebagai Tempat Sembahyang

Terlihat depan Kelenteng Sijuk dari sisi yang berseberangan dengan jalan masuk. Dua buah Kim Lo, bangunan berbentuk pagoda untuk membakar kertas sembahyang, nampak terletak agak sedikit terpisah di depan. Bangunan utama yang berada di tengah mempunyai atap yang tertutup seng, tanpa ornamen sepasang naga berebut mustika di tengah puncaknya seperti umumnya kelenteng yang lain. Tetapi ada ornamen sepasang naga yang berukuran besar melilit di tiang besar depan teras dengan kepala saling berhadapan.

Bangunan terbuka yang berbentuk bujur kandang di sebelah kiri Kelenteng Sijuk berfungsi sebagai pendopo. Tempat ini biasa digunakan oleh pengurus dan pengunjung kelenteng untuk duduk-duduk sesudah atau sebelum sembahyang.

Jauh agak ke depan, di halaman Kelenteng Sijuk, terdapat sebuah altar kecil daerah pemujaan bagi Dewa Langit (Thien Sin, atau Shien Tien Shang Tee). Dari tempat ini bisa terlihat tiang jembatan yang melintang di atas Sungai Sijuk, yang jaraknya hanya sekitar 50 m di seberang Kelenteng Sijuk. Bangunan Kelenteng Sijuk ini menghadap ke arah Barat.

Ada sebuah hiolo tua di depan patung Hok Tek Ceng Sin, yang berada di altar utama kelenteng ini tepatya di dinding ujung ruangan. Dewa Bumi umumnya disembah oleh para pedagang dan petani untuk mendapatkan barokah rizki yang melimpah. Rizki, usia panjang, dan kesehatan merupakan tiga hal yang paling kita butuhkan, selain kebahagiaan tentunya.

Di ruang utama Kelenteng Sijuk Belitung terdapat empat buah patung menempel pada dinding di ujung ruangan, satu diantaranya ialah Kwan Kong (Guan Yu), seorang jenderal tenar dari era Tiga Negara (Sam Kok). Tiga patung lainnya tidak terlalu populer, dan tidak pula ada tulisan di bawahnya. Bedug atau tambur berukuran sedang, serta genta berukuran cukup besar nampak menggantung di langit-langit ruangan, dengan sebuah lukisan klasik Cina melekat pada dinding di sampingnya.

Benda-Benda Bersejarah

Benda-benda yang merupakan perlengkapan untuk sembahyang di Kelenteng Sijuk yang berada di sekitar patung ini. Seperti hiolo tua dengan ornamen singa itu, tampak tua dan antik. Sementara itu di depan terdapat sepasang Ciok-say (singa) berwarna hijau di depan tiang naga, dan sepasang Ciok-say lagi berwarna putih dengan ukuran lebih kecil di masing-masing sisi luarnya.

Lebih ke sebelah kiri lagi di halaman samping Kelenteng Sijuk terdapat sebuah altar yang dipakai untuk menyembah Dewa Batu. Konon nama Dewa Batu belum ada di kelenteng lain, selain nama Gedung Batu di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang.

Area yang Sejuk

Di belakang altar Dewa Batu Kelenteng Sijuk ini, yang mana pohon rimbun itu tumbuh, memang merupakan batu gunung yang berukuran raksasa, betul-betul besar, memanjang ke belakang, yang bisa kita pandang jikalau pengunjung naik ke atas bukit melewati undakan. Juga baru tahu bahwa hari ke 10 Tahun Baru Cina yakni hari ulang tahun Dewa Batu, yang mana pada hari tersebut orang tidak boleh memindahkan batu, mengambil batu gunung, dan membangun rumah dengan batu. Sehingga hari itu terkenal sebagai Shi Bu Dong (tak ada batu yang bergerak). Kalau pantangan ini ada yang melanggar, akan terjadi hal-hal buruk pada tanaman.

Di halaman sebelah kiri Kelenteng Sijuk terdapat sebuah sumur tua yang berkedalaman 7 meter. Dasar sumur berupa batu tebal, sehingga tak dapat memperdalam lagi. Tapi di sisi kanan kiri dinding sumur tak ada batunya, dan air sumur ini tak pernah kering, walaupun pada musim kemarau sekalipun.

Begitulah, sedikit ulasan tentang kelenteng ini. Semoga bisa bermanfaat untuk anda. Sebagai penutup, Kelenteng Sijuk Belitung lazimnya ramai dikunjungi orang untuk besembahyang pada tanggal 6 bulan 6 pada Kalender Cina.

Baca Juga – Paket Open Trip Belitung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
× Hai, Ada yang bisa kami bantu?